Catatan Harian

Catatan Harian: Ke Boyolali

Bagikanlah:

9 Maret 2008
Pukul setengah enam pagi, Kirana sudah ditinggal mamanya pergi ke Boyolali. Dik Anggie harus melayani kebaktian di GKI Boyolali. Maka menjadi tugasku untuk mengurus Kirana. Pukul setengah tujuh, Kirana sudah bangun. Dia minta kue wijen, kemudian bermain-main sepeda di ruang depan.
Pukul delapan, Kirana mengajak ke kamar untuk menonton VCD Bambi. Di kamar kami memang diletakkan TV 14″ dan player DVD. Biasanya, Kirana minta diputar film bambi atau cerita boneka sebelum tidur. Pagi itu, sambil berbaring dia menonton film Bambi. Lama-lama ketiduran lagi.
Pukul sembilan, Kirana belum juga bangun. Padahal di ruang depan, anak-anak seusianya sudah datang. Mereka mau ikut acara Sekolah Minggu kelas Kana. Kelas ini untuk anak-anak Balita. Tempatnya memang di rumah pastori. Karena belum bangun, maka Kirana tidak ikut Sekolah Minggu.
Pukul setengah sepuluh, Mamanya sudah pulang dari Boyolali. Kirana ikut bangun.
Siangnya, Kirana bermain ke rumah temannya. Sampai sore, dia belum juga. Maka saya putuskan untuk ikut isteri ke Boyolali. Dia harus melayani lagi kebaktian sore di GKI Boyolali. Kami diantar dengan mobil gereja, disopiri koh Yanuar. Sepanjang jalan, hujan turun sangat deras. Air hujan melimpah menggenangi jalan sampai 10 cm.
Sampai di Boyolali, belum ada satu jemaat pun yang datang. Ternyata, untuk kebaktian sore memang tidak banyak jemaat yang datang. Di luar majelis dan pelayan kebaktian, jemaat yang datang berjumlah kurang dari 10 orang.
Pulang ke Klaten, hujan masih turun, tapi cuma gerimis. Sampai di Klaten, kami putuskan untuk jajan dulu. Kami ingin mencoba Bakso Bakar yang baru saja buka di Sangkal Putung. Pengunjungnya ramai, kami harus antre untuk memesan bakso bakar. Mungkin karena masih baru, sehingga banyak orang yang penasaran. Di sini, pengunjung bebas mengambil sendiri jenis bakso yang diingini. Tapi untuk bakso bakar, harus menunggu giliran baksonya dibakar. Kami sudah menghabiskan semangkok bakso yang biasa, tapi pesanan bakso bakarnya tak kunjung datang. Akhirnya, kami putuskan untuk membungkus bakso bakar dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Secara pribadi, aku tidak terkesan dengan jenis masakan ini. Tidak ada hal yang istimewa yang dapat membuatku ingin datang lagi ke sana.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Bagikanlah: