Catatan Harian,  Catatan Pribadi,  peliputan,  video

Catatan Harian:Gagal Wawancara Walikota

Bagikanlah:

Rabu, 02 April 2007
Hari ini, saya dijadwalkan mengadakan wawancara dengan Herry Zuhdianto, walikota Yogyakarta. Permohonan wawancara sudah disampaikan sebulan yang lalu, tapi baru bisa dipenuhi sekarang. Hasil wawancara akan dimuat dalam situs video www.beoscope.com. Saya lalu mengontak Fidelis Felix untuk menemani wawancara. Saya kurang yakin dengan kamera saya karena beberapa kali ngadat. Jangan sampai untuk wawncara sepenting itu, tiba-tiba kamera video tidak berfungsi normal. Maka rencananya Felix, yang pernah menjadi Camera Person Jogja TV, mengambil gambar close up Walikota, sedangkan saya mengambil gambar panoramik sebagai insert.

Malam harinya saya sudah memulai mengisi baterai kamera secara penuh. Tripod juga sudah disiapkan. Pukul setengah dua belas siang, saya pun meluncur ke Jogja. Mampir sejenak di toko Central untuk membeli 3 buah kaset video Hi-8, kemudian menuju ke balaikota. Saya janjian ketemu Felix di depan pintu masuk. Dia membawa kamera Panasonic yang cukup besar, seri M9000. Dia kalungkan begitu saja di depannya, sementara tripod yang besar digantungkan di pinggangnya. Sedangkan di punggungnya bertengger ransel yang berisi lampu dan baterai kamera. “Wah seperti mau maju perang saja,” ledek saya. Sementara bawaan saya cukup kompak. Saya membawa kamera handycam yang masuk dalam tas kamera. Di dalamnya sudah ada kaset, baterai, kamera foto digital dan PDA. Sedangkan cantelan sepeda motor, saya gantungkan tripod kecil.

Bersama-sama kami kemudian berjalan ke bagian protokol. Setelah mengutarakan maksud kedatangan, kami kemudian diantar menuju ruang rapat untuk pengambilan gambar. Ruangan tersebut sangat sederhana, penuh dengan meja dan kursi. Saya agak ragu, apakah ruangan ini layak untuk pengambilan gambar video. Tapi ya sudah. Kami pun segera memasang peralatan kamera. Saya dan Felix segera memasangkan kamera video kami masing-masing ke tripod dan mengatur sudut pengambila gambar.

Pukul satu siang, seorang staf dari Dinas Pariwisata Pemerintah Kota masuk ruangan. Dia kemudian menjelaskan bahwa sudah menyiapkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh “pak Kepala”. (Dalam surat permohonan, saya sudah melampirkan daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara tersebut). Sampai pukul setengah dua, seperti yang dijanjikan, walikota belum juga muncul. Yang datang malah Kepala Dinas Pariwisata Pemkot. Setelah mengobrol selama sekitar 15 menit, seorang staf perempuan memberitahu bahwa sampai saat ini Walikota belum selesai mengikuti Sertijab (Serah terima jabatan) di sebuah instansi. Jadi dia tidak bisa diwawancara. Maka sebagai gantinya, Walikota menunjuk Kepala Dinas Pariwisata Pemkot Yogja untuk melayani wawancara.

Semangat saya langsung melorot tajam. Memang yang lebih kompeten menjawab pertanyaan yang saya ajukan adalah Kepala Dinas Pariwisata karena semuanya berkaitan dengan kepariwisataan. Meski begitu dalam dunia jurnalistik ada adagium: “Name make news”—orang yang ternama itu memiliki nilai berita yang tinggi. Nilai berita wawancara dengan walikota lebih bernilai tinggi daripada dengan stafnya. Tapi apa boleh buat, wawancara saya lakukan selama kurang dari 10 menit.

Usai wawancara, kami naik sepeda motor beriringan ke kontrakan Felix di Nglempongsari (sebelah utara monumen Jogja Kembali). Di langit, mendung bergelayut sangat berat. Tanmpaknya bakal segera tercurah. Meski belum hujan, kami putuskan memakai jas hujan. Ini melindungi kamera dari air hujan, terutama kamera Felix karena tidak dimasukkan ke dalam wadahnya sama sekali. Benar juga, sampai di kawasan UGM, hujan turun sangat lebat. Hanya dalam hitungan menit, jalan-jalan di seputar UGM sudah tergenang sampai mata kaki (Ini peringatan awal bagi kota Jogja. Pada zaman saya kuliah dulu, tidak ada cerita jalan tergenang oleh air hujan, selebat apapun hujan tercurah).

Sampai di simpang empat mBarek atau depan pos polisi Bulaksumur, kami terhalang oleh genangan air setinggi sekitar 20 cm. Tampaknya air dari selokan Mataram meluber ke jalan. Tidak ada pilihan lain, saya menerjang genangan air itu. Untuk menerjang banjir ada triknya. Caranya, persneling diturunkan dan gas ditarik agak kuat. Selain itu, sebaiknya mengekor dengan jarak dekat pada mobil yang ada di depan kita. Ban mobil akan menyibakkan air ke samping, sehingga permukaan air menjadi lebih rendah.

Felix agak teringgal di belakang. Rupanya dia hampir terpeleset di genangan air ini. Saat menyusuri jalan Kaliurang, hujan semakin lebat. Sampai di lampu merah Kethungan, kami berbelok ke kiri, menyusuri ringroad utara. Ketika sampai di tikungan Plemburan, kami dihadang genangan air lagi. Kali ini genangannya cukup panjang. Tampaknya drainase di jalan ini kurang berfungsi baik. Kami berjalan di jalur lambat. Sementara itu di jalur cepat, air juga tergenang. Akibatnya, berkali-kali kami disembur air oleh karena mobil yang melaju kencang di samping kami. Sialan!!!

Sampai di rumah kontrakan Felix, hujan belum reda. Celana saya basah kuyup. Sepatu dan kaos kaki juga dipenuhi air. Untunglah kamera video tetap terlindung kering. Setelah hujan reda, pukul 16.10 saya pamitan pulang. Sampai di Maguwo, mampir sejenak di warung bakso “Mas Kribo” untuk makan siang.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Bagikanlah: