Catatan Pribadi

Umat Penyuka Sensasi

Bagikanlah:
Seorang sahabat beda keyakinan, mengirimi video lewat WA (Whatsapp). Isinya tentang ceramah seseorang yang pindah ke agama kristen, lalu dia menjelek-jelekkan agamanya yang lama. Video ini sebenarnya sudah ada 10 tahun yang lalu, tapi entah mengapa sekarang viral lagi. Padahal oknum yang bersangkutan sudah meminta maaf atas videonya itu. Ada banyak kebohongan dalam kesaksiannya. Entah mengapa akhir-akhir ini video itu menjadi viral lagi.
Kalau saya memposisikan diri sebagai sahabat saya itu, perasaan saya pasti terluka oleh kesaksian dalam video itu. Sayangnya, masih ada umat Kristen yang menggemari video seperti itu. Kalau ada orang dewasa, apalagi orang itu terkenal, yang baru saja pindah ke agama Kristen, sontak ada banyak undangan yang dilayangkan kepadanya. Sepertinya ada perasaan bangga, seperti orang yang baru saja menang perang atau menyabet kejuaraan. Dia lalu diarak dan dielu-elukan. Mereka membayangkan keimanan mereka sebagai sebuah kontestasi menang-kalah. Menurut saya,keimanan yang seperti ini tidak akan pernah merasakan kedamaian karena selalu merasa terancam.
Sepanjang ingatan saya, setidaknya ada 4 orang yang pernah diarak di gereja ketika masuk kristen, tapi setelah itu, kerohanian mereka hanya mak plekenyik. Di antaranya adalah mantan gembong preman, dukun santet, dan dua lagi mengaku sebagai mantan panglima ormas radikal. Mereka mendapat puja-puji bukan karena kualitas keimanan mereka, melainkan karena mereka mau menjelek-jelekkan agama yang mereka tinggalkan. Pada kenyataannya, saat ini kehidupan mereka jauh dari nilai-nilai kristiani.
Orang kristen yang senang mendengarkan kesaksian seperti itu cenderung penyuka sensasionalisme. Iman mereka dibangun berdasarkan perasaan atau emosi. Pada kenyataannya, sebenarnya iman mereka masih lemah karena keyakinan mereka dibangun di atas rasa superior atas ajaran agama lain.  Mereka merasa lebih benar daripada umat lain, tapi sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang diyakininya sebagai kebenaran itu.
***
Suatu kali, gereja kami ditawari untuk mengundang seorang artis cantik yang baru saja masuk agama kristen. Heboh. Kalau kami menerima tawaran ini, gereja kami pasti penuh oleh pengunjung, yaitu orang-orang kristen yang kecanduan pada sensasi.
Tapi kami menolaknya. Kami mempertimbangkan perasaan saudara-saudara kami yang beragama sama dengan agama lama artis ini. Mereka pasti terluka dengan kehadiran artis ini. Buat apa gereja kami penuh dengan pengunjung tetapi kami kehilangan persaudaraan? Para pengunjung itu hanya mencari kepuasaan sesaat. Ketika gereja kami tidak dapat memuaskan hasrat mereka, kemungkinan besar mereka akan beralih ke gereja lain yang lebih sensasional. Sementara itu, saudara-saudara kami yang beragama lain itu sudah hidup bersama dengan kami selama puluhan tahun.
***
Lewat percakapan di WA itu, saya meminta maaf kepada teman saya jika dia dan komunitasnya terluka oleh rekaman video itu. Saya tidak memungkiri bahwa masih ada gereja yang tidak sensitif soal seperti ini.
***
Lalu bagaimana dengan orang kristen yang pindah ke agama lain lalu menjelek-jelekkan agama Kristen? Memang ada juga yang berlaku demikian. Namun bukan berarti bahwa kita harus membalas dengan perbuatan serupa itu kan? Ingatlah pada sabda Tuhan Yesus. Bunyinya begini:“”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12)
Itu yang disebut sebagai HUKUM EMAS.
 
 
 
Bagikanlah: