Posted on

Ada seorang hamba Tuhan yang ditugaskan melayani di pedalaman. Namanya pdt. Yohanes Santi. Ketika baru 1 hari sampai di sana, warga setempat menawari dia untuk ikut berburu di hutan. Tanpa berpikir panjang, Yohanes memutuskan ikut. Mereka pun masuk hutan.

Karena tidak terbiasa berjalan di dalam hutan, Yohanes ketinggalan dan kehilangan jejak dengan warga lokal. Sementara itu, warga desa berburu seperti biasa. Mereka lupa kalau mengajak warga baru. Setelah sadar kembali, sudah terlambat karena Yohanes sudah tersesat di hutan lebat.
Maka operasi pencarian dan penyelamatan pun diadakan. Seluruh warga dikerahkan masuk ke dalam hutan selama berhari-hari. Sementara itu, hamba-hamba Tuhan berkumpul untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan.

Tujuh hari berlalu hasilnya nihil. Warga lokal memutuskan untuk berhenti mencari. Berdasarkan pengalaman, tidak ada orang yang mampu bertahan hidup sendirian di hutan selama seminggu tanpa membawa bekal dan peralatan cukup. Apalagi pdt. Yohanes ini tidak punya ketrampilan survival (bertahan hidup) di hutan. Menurut teori, manusia hanya bisa bertahan hidup 3 hari tanpa minum.

Akan tetapi hamba-hamba Tuhan yang berdoa ini punya keyakinan bahwa rekan mereka masih hidup. Mereka mendesak agar operasi SAR tetap dilanjutkan. Dengan harapan yang tipis, warga lokal kembali menyisir hutan.
Pada hari ke-13, pencarian warga sampai di puncak bukit. Mereka menemukan pdt. Yohanes dengan keadaan tubuh yang memprihatinkan. Hanya pakaian dalam yang melekat di badannya. Ajaibnya, dia masih hidup tapi mengalami halusinasi. Menurut ceritanya di kemudian hari, Yohanes terpaksa minum air hujan dengan menengadah langsung saat turun hujan.

Ini sepenggal cerita dari pendeta yang melayani di pedalaman Kalimantan. Dari sini kita bisa lihat bahwa tidak semua pendeta hidup bergelimang harta seperti yang ditunjukkan oleh sebuah akun IG. Akun ini menaksir harga baju dan aksesoris yang dikenakan oleh hamba-hamba Tuhan tajir. Harganya ratusan juta hingga M.
Tapi itu hanya sebagian kecil saja kok. Sebagian besar yang lain hidup dengan sederhana, bahkan miskin. Saya sengaja tidak memilih kata yang lebih halus dari “miskin” supaya lebih tajam.

Sekali-sekali tengoklah kehidupan pendeta di pedalaman atau tidak usah jauh-jauh, kunjungi saja gereja-gereja “kecil” di sekitar Anda dan rasakan sendiri pergumulan hidup mereka. Kadang untuk membelikan bakso semangkok bagi anak saja, mereka harus berhitung dengan cermat

Gambar sampul diambil dari: https://citiesandmemory.com