Posted on

Menolak pemberian itu tidak mudah, apalagi jika pemberian itu dengan tulus. Itulah yang dialami oleh seorang penginjil di pedalaman Kalimantan. Sebut saja namanya Ana. Ketika waktunya pulang, Ana bersiap di dermaga di tepi sungai Mahakam. Dia harus menumpang kapal lebih dulu setelah itu naik pesawat ke kota tinggalnya.

Begitu tahu kepulangan Ana, warga lokal berduyun-duyun datang membawakan makanan dan berbagai hasil bumi supaya menjadi bekal dalam perjalanan. Jumlahnya cukup banyak sehingga tidak mungkin muat dimasukkan ke dalam pesawat, nantinya. Namun Ana tak kuasa menolaknya karena pemberian itu dengan tulus.

“Dipikir nanti saja di bandara,” kata Ana dalam hati sambil memuat berbagai makanan ke atas geladak kapal. Dia berencana akan mengambil secukupnya, lalu membagi-bagikan makanan itu pada orang di dekat bandara.

Awak kapal melepas tali di dermaga kapal. Para penumpang dan pengantar saling melambaikan tangan perpisahan. Beberapa jam kemudian, keriuhan di atas kapal perlahan-lahan mulai menyurut seiring dengan datangnya kantuk. Yang tertinggal hanya deru mesin kapal dan kecipak air tersibak badan kapal.

Ana mulai memicingkan mata untuk beristirahat. Namun belum lama terlelap, Ana terbangun oleh kegaduhan di luar. Deru mesin hilang. Yang terdengar adalah percakapan di antara pada awak kapal. Ternyata mereka berusaha memperbaiki mesin kapal yang mendadak mati.

Tanpa tenaga dari mesin, kapal seperti gabus di atas air. Bisa mengambang tetapi terseret arus sungai yang deras. Pada waktu itu belum wilayah Kalimantan masih sangat sepi. Jangkauan alat komunikasi sangat terbatas, sementara lalu lintas sungai masih lengang dari kapal lain.

Berjam-jam berlalu, awak kapal belum juga berhasil menghidupkan mesin kapal, sementara kapal sudah terseret jauh. Para penumpang mulai kelaparan. Tidak banyak orang yang membawa bekal makanan karena mereka memperkirakan perjalanan tidak sampai puluhan jam.

Melihat situasi itu, Ana segera teringat bekal makanan yang berbondong-bondong diberikan warga kepadanya. Dia segera membagi-bagikan makanan itu kepada semua penumpang dan awak kapal yang kelaparan.

Ana bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan itu. Beberapa jam kemudian, kapal mereka berpapasan dengan kapal lain. Kapal itu kemudian menarik kapal yang mesinnya rusak itu sehingga bisa merapat di dermaga terdekat untuk perbaikan mesin.