Catatan Pribadi

Revolusi Putih yang Masih Abu-abu

Bagikanlah:

Hasyim temui Gabener Now untuk mengusulkan program #RevolusiPutih, ide dari kakaknya, yaitu Prabowo. Inti program ini adalah pemberian tambahan makan siang gratis bagi siswa yang kismin. Menu yang diusulkan adalah susu, telur, dan kacang hijau yang memiliki kandungan protein tinggi.
Ide #revolusiputih ini tak urung mendapat kritikan dari menteri kesehatan dan menteri kelautan dan perikanan. Menkes berkilah bahwa jumlah produksi susu domestik tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah banyak. Sebagai alternatif asupan protein, selain dari susu, dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi ikan. Itu sebabnya bu Susi sangat gencar mengampanyekan makan ikan. Kalau tidak makan ikan, maka akan ditenggelamkan.
Tapi apakah solusinya sesederhana itu. Tampaknya tidak. Usulan program ini bukan semata-mata untuk memberikan gizi dalam masyarakat. Hasyim adalah seorang pengusaha. Sedangkan dalam bisnis tidak ada makan siang gratis. Bahkan dalam program Corporate Social Responsibility sekalipun, sebuah perusahaan pasti selalu memperhitungkan keuntungan apa yang akan didapat dengan menjalankan program CSR-nya. Apalagi dalam usulan program ini, sumber dananya bukan dari perusahaan Hasyim, melainkan dari negara (APBD). Lalu berapa dana yang akan dikeluarkan untuk program ini? Mari kita hitung secara kasar. Menurut BPS, pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa di DKI Jakarta mencapai 1,56 juta siswa. Kalau kita berasumsi 40% dari jumlah itu adalah siswa miskin, maka ada sekitar 600 ribu orang yang akan menerima bantuan.
Kalau harga satu kotak susu UHT dibanderol 2 ribu saj, maka tiap hari dibutuhkan dana Rp. 1,2 milyar, lalu kalikanlah 5 hari x 4 minggu. Total Rp. 24 milyar per bulan. Fantastis kan?
Entah ada kaitannya atau tidak, Prabowo itu punya perusahaan PT. Susu Nusantara. Direkturnya adalah Fadli Zon

Bagikanlah: